(LA PAROLE) Laman tentang, Bahasa, Sastra, dan Wisata

Rabu, 16 Juni 2010

Morfofonemik Bahasa Minangkabau

*Bahren

I. Pendahuluan

Bahasa menunjukkan bangsa. Paling tidak itulah sebuah tamsil atau pepatah lama menyebutkannya. Lain dari pada itu, bahasa juga merupakan sebuah konvensi dari para penggunanya. Karena merupaka konvensi, bisa jadi bahasa pun digunakan oleh kelompok tertentu untuk memperlihatkan identitas mereka. Inilah saya, inilah kami, ketika sebuah pertanyaan muncul mengapa mereka menggunakan bahasa seperti itu. rupakan salah satu bagian dalam kebudayaan yang ada pada semua masyarakat di dunia.

Bahasa terdiri atas bahasa lisan dan tulisan (Koentjaraningrat,1980 : 9). Sebagai bagian dari kebudayaan di mana manusia memegang peranan penting, bahasa juga turut ambil bagian dalam peran manusia itu karena fungsinya sebagai alat komunikasi yang terus berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Karena bagian dari budaya dan peranannya terhadap manusia inilah maka bahasa perlu dilestarikan, terutama yang berkenaan dengan pemakaian bahasa daerah karena merupakan lambang identitas suatu daerah, masyarakat, keluarga dan lingkungan.

Di samping berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga dapat diidentifikasi menurut ciri-cirinya seperti bunyi (Dineen 1967:6). Bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara ( Chaer 1994:43).

Bahasa daerah merupakan bahasa yang bisanya digunakan oleh masyarakat di suatu daerah. Pemakai bahasa daerah dapat menciptakan kehangatan, dan keakraban, oleh karenanya bahasa daerah diasosiasikan dengan perasaan, kehangatan, keakraban dan spontanitas (Alwasilah, 1993).Bahasa Minangkabau (selanjutnya di singkat BM) merupakan bahasa yang digunakan di seluruh wilayah Propinsi Sumatra Barat minus Mentawai karena mentawai memiliki bahasa sendiri dan tidak termasuk ke dalam salah satu dialek BM. BM memiliki berbagai dialek di antaranya dialek Rao Mapat Tunggul, dialek Muara Sungai Lolo, dialek Payakumbuh, dialek Pangkalan Lubuk, dialek Agam-Tanah Datar, dialek Pancung Soal, dan dialek Koto Baru. (Nadra Dkk, 3.2009).

Bunyi dalam bidang linguistik dapat dipelajari dalam kajian fonologi dan morfofonemik. Istilah morfofonemik atau morfofonologi muncul pertama kali pada kongres pakar Filologi Slavic di Praha Oktober 1929. Istilah ini dipopulerkan oleh Trubetskoy pada tahun 1933. Bloomfield (1933) dalam tulisannya mencantumkan istilah morfofonemik pertama kali. Hal ini terjadi pada bidang Linguistik di Amerika yang kemudian penelitian di bidang ini dilanjutkan oleh pengikut Sapir, Swadesh yang membedakan fonologi dari fonemik.

Morfofonem adalah satuan fonologis yang sepadan dengan beberapa fonem yang muncul dalam alomorf-alomorf dari morfem tertentu; misalnya //N// adalah morfofonem yang direalisasikan dalam alomorf [mən], [məŋ], [mən], dan [mə] yang masing-masing adalah anggota gari morfem {meN}. (Kridalaksana. 142-2001)

Morfofonemik juga dipadankan dengan morfofonologi yaitu 1. analisis dan klasifikasi pelbagai ujud dan realisasi yang menggambarkan morfem; 2. struktur bahasa yang menggambarkan pola fonologis dari morfem; termasuk di dalamnya penambahan, pengurangan, penggantian fonem, atau perubahan tekanan yang menetukan bangun morfem. (Kridalaksana. 142-2001).

Pada penelitian awal, proses morfofonemik juga terjadi dalam BM dengan ditemukannya proses pemunculan fonem misalnya, munculnya konsonan alveolar nasal /N/ dalam konstruksi kombinasi prefiks /ma-/ + /danga/ [mandanga] ‘mendengar’. Ditemukannya juga proses peluluhan fonem misalnya, luluhnya konsonan alveolar tak bersuara /s/ menjadi konsonan bilabial nasal /ŋ/ pada konstruksi kombinasi prefiks /ma-/ + /susu/ [maŋusu] ‘menyusu/ menetek’.

Secara teoritis gramatika sebuah bahasa sekurang-kurangnya memiliki empat komponen: kata (leksikon) yang dibahas dalam morfologi, bunyi bahasa (tata bunyi) yang dipelajari dalam fonologi, tata kalimat yang dipelajari melalui sintaksis dan makna bahasa yang dipelajari dalam semantik (Culicover, 1976 :1-2). Untuk beberapa kasus dan gejala kebahasaan tertentu pembahasaan melibatkan dua atau lebih cabang yang telah disebutkan di atas maka dalam linguistik dikenal istilah-istilah morfonologi/morfofonemik, morfosintaksis dan morfosemantik. Pada Makalah kali ini akan dibahas masalah-masalah yang berkaitan dengan morfofonemik dalam bahasa Minangkabau. Masalah ini akan dilihat dari segi proses morfofonemik yang dikemukakan oleh Soegijo yang meliputi:

1. Pemilihan

2. Pemilihan dan pergeseran

3. Pemilihan, penghilangan, dan pergeseran

4. Penghilangan

5. Penambahan

6. Pergeseran, dan

7. Penambahan

Kesemua proses ini akan melibatkan bahasa Minangkabau sebagai sumber utama dari data yang akan ditampilkan. Hal ini berkaitan dengan apakah seluruh proses morfologis yang disebutkan Soegijo itu juga ada dalam bahasa Minangkabau.

2. Pembahasan

Secara gramatika sebuah bahasa setidaknya memiliki empat komponen, yaitu: kata (leksikon) yang dibahas dalam morfologi, bunyi bahasa (tata bunyi) yang dipelajari dalam fonologi, tata kalimat yang dipelajari melalui sintaksis dan makna bahasa yang dipelajari dalam semantik (Culicover, 1976 :1-2). Untuk beberapa kasus dan gejala kebahasaan tertentu pembahasaan melibatkan dua atau lebih cabang yang telah disebutkan di atas, dalam linguistik dikenal istilah-istilah morfonologi/ morfofonemik, morfosintaksis dan morfosemantik.

Morfofonemik berasal dari kata morph + o + phoneme + ics. Morph artinya bentuk, -o- adalah stem formatif atau pembentuk stem (bentuk dasar). Phoneme ialah bunyi bahasa yang referensial atau distingtif. Artinya bunyi bahasa berfungsi membedakan makna, sedangkan –ics adalah ilmu (Soegijo. 85). Sementara itu proses morfofonemis adalah proses perubahan-perubahan fonem atau alternasi-alternasi fonem akibat proses morfologis. Proses morfofonemis yang akan digunakan dalam menganalisis morfofonemik bahasa Minangkabau adalah proses-proses yang disebutkan oleh Soegijo, proses-proses ini meliputi:

1. Pemilihan

2. Pemilihan dan pergeseran

3. Pemilihan, penghilangan, dan pergeseran

4. Penghilangan

5. Penambahan

6. Pergeseran, dan

Proses-proses inilah yang akan dilihat pada bahasa Minangkabau. Apakah proses tersebut juga terjadi dalam bahasa Minangkabau atau justru sebaliknya.

a. Pemilihan

Soegijo menyebutkan pemilihan adalah istilah untuk proses pemilihan fonem nasal. Proses pemilihan fonem nasal I terjadi apabila prefik maN- atau paN- (baik meN-I atau maN-kan, baik paN- atau paN-an) bertemu dengan awal bentuk dasar selain /l, r, y, m, n, ñ, ŋ/. Namun dalam bahasa Minangkabau tidak terdapat bunyi / ñ, ŋ/ pada bentuk dasar Contoh:

maN- + cabuik à mancabuik ‘mencabut’

maN- + tari à manari ‘menari’

maN- + danga à mandanga ‘mendengar’

perubahan- perubahan tersebut sesuai dengan fonem awal bentuk dasarnya. Artinya bentuk nasal yang terjadi ditentukan oleh titik artikulasi fonem awal bentuk dasar.

b. Pemilihan dan Pergeseran

pemilihan seperti di atas yang dimaksud oleh Soegijo adalah pemilihan fonem nasal, sedangkan pergeseran adalah bergesernya fonem nasal ke belakang. Fonem nasal yang semula merupakan anggota prefik meN atau peN kemudian menjadi anggota atau bergabung dengan bentuk dasarnya. Namun’dalam bahasa Minangkabau prefik meN atau peN berubah menjadi prefik maN atau paN. Dalam bahasa Minangkabau hal seperti ini tidak terjadi sebagaimana dalam bahasa Indonesia.

prefik maN atau paN (Minangkabau)

ma + angkek

ma-angkek ‘mengangkat’

ma + anta

ma-anta ‘mengantar’

ma + ikua

ma-ikua ‘mengekor’

ma + esek

ma-esek ‘mengusap’

ma + ota

ma + ota ‘mengobrol’

c. Pemilihan, Penghilangan, dan Pergeseran

Pada tipe ini Soegiyo menyebutkan terjadi tiga proses, yaitu pemilihan fonem nasal yang sama titik artikulasinya dengan fonem awal bentuk dasarnya. Hilangnya fonem awal bentuk dasar, dan bergesernya fonem nasal prefik yang kemunian bergabung dengan bentuk dasarnya. Sama hal nya denga kasus sebelumnya, hampir seluruh betuk meN dalam bahasa Indonesia menjadi maN dalam bahasa Minangkabau. Berikut contoh –contoh dalam bahasa indonesi yang dipadankan dengan contoh dalam bahasa Minangkabau

1.

prefik maN plus fonem /p/ (Minangkabau)

ma + pakai

ma-m (p) akai ‘memakai’

ma + paso

ma- m (p) aso ‘memaksa’

ma + paku

ma-m (p) aku ‘memaku’

2.

prefik maN plus fonem /t/ (Minangkabau)

ma + tari

ma-n (t) ari ‘menari’

ma + tangkok

ma- n (t) angkok ‘menangkap’

ma + tiru

ma-n (t) iru ‘meniru’

3.

prefik maN plus fonem /s/ (Minangkabau)

ma + sangko

ma-ny (s) angko ‘menyangka’

ma + sariang

ma- ny (s) ariang ‘menyaring’

ma + sarang

ma-ny (s) arang ‘menyerang’

4.

prefik maN plus fonem /k/ (Minangkabau)

ma + kocok

ma-ng (k) ocok ‘mengocok’

ma + kabek

ma-ng (k) abek ‘mengikat’

ma +karek

ma-ng (k) arek memotong’

d. Penghilangan

pada bagian penghilangan ini Soegijo membagi atas tiga hal yaitu:

1. Fonem /r/ pada prefik ber, dan ter hilang apabila bertemu dengan bentuk dasar yang silabe petamanya homogen, atau fonem awal bentuk dasar itu /r/ contoh namun kasus dalam bahasa Minangkabaun untuk prefik ter yang berubah jadi ta dan ber menjadi ba tidak terjadi penghilangan bunyi /r/ baik pada silabe pertama yang homogen atau pada fonem awal /r/, hal ini dapat dilihat seperti contoh

Prefik ba dan ta plus bentuk dasar /r/ dan silabe pertama yang homogen (Minangkabau)

ba + karajo

ba + karajo ‘’bekerja’

ba + tabang-an

ba + tabangan ‘beterbangan’

ta + randam

ta + randam ‘terendam’

2. Fonem /r/ pada prefik per- hilang akibat bertemu dengan beberapa bentuk dasar, namun dalam bahasa Minangkabau, prefik per- sepadan dengan prefik pa-, bedanya hanya prefik pa- dalam bahasa Minangkabau tidak ada bagian yang hilang, misalnya:

Prefik pa tidak mengalami perubahan (Minangkabau)

pa + tani

patani ‘petani’

pa + dagang

padagang ‘pedagang’

pa + tinju

paninju ‘peninju’

Namun prefik pa- dalam bahasa Minangkabau yang bertemu dengan bentuk dasar yang di awali dengan fonem /t/ maka fonem /t/ tersebut berubah menjadi fonem /n/. Selain itu, dari segi kelas kata pun akan berubah dari kelas kata benda (tinju) menjadi kelas kata sifat (suka meninju).

3. Hilangnya Fonem-Fonem Nasal

Fonem nasal pada prefik meN- atau peN- hilang apabila prefik tersebut brtemu dengan bentuk-bentuk dasar yang berfonem awal: /l,r,y,w,n,ñ,ŋ/ misalnya

Prefik ma- dan pa- (Minangkabau)

ma + lupo-an

malupoan ‘melupakan’

ma + rawat

marawat ‘merawat’

ma + makan

mamakan ‘memakan’

5. Penambahan

a. Penambahan /w/

Penambahan fonem /w/ terjadi apabila bentuk dasar yang berfonem akhir /u, o, au/ bertemu dengan sufik –an atau bentuk dasar yang berfonem akhir /u/ dengan sufik /i/, namun dalam bahasa Minangkabau yang terjadi adalah bentuk dasar yang berfonem akhir /u/ bertemu dengan sufik –an. contoh:

Penambahan /w/ dalam bahasa (Minangkabau)

Tunggu + an

Tungguwan ‘tungguwi’

lalu + an

Laluwan ‘babakan’

sapu + an

sapuwan ‘ sapukan’

b. Penambahan /y/

Penambahan /y/ ini terjadi apabila bentuk dasar berfonem akhir /i, a/, bertemu dengan konfik ke-, -an. dalam bahasa Minangkabau hal ini juga terjadi. Namun. Bentuk dasar tidak mesti di dahului oleh prefik ke-, sebagai contoh:

Penambahan /y/ dalam bahasa (Minangkabau)

kunci + an

kunci-yan ‘kuncikan’

PaN + api + an

Parapi-yan ‘perapian’

Ka+lalai+an

Kalalai-yan ‘kelalaian’

c. Penambahan fonem /?/

Penambahan fonem /?/ terjadi apabila bentuk dasar yang berfonem akhir /a/ bertemu dengan sufik –an. misalnya: namun dalam bahasa Minangkabau hal ini tidak terjadi, penambahan /?/ hanya terjadi kalau fonem akhir bentuk dasar juga berbunyi /?/

Penambahan/?/ dalam bahasa (Minangkabau)

Masak+an

masak?an ‘masakkan’

Lalok+an

lalok?an ‘tidurkan’

duduak

duduak?an ‘dudukkan’

6. Pergeseran

Pergeseran ini seperti yang telah disebutkan oleh Soegijo bahwabertemunya afiks dengan bentuk dasar dapat terjadi juga pergeseran fonem. Maksudnya adalah bahwa suatu onem uang semula anggota salah satu morfem kemudian bergeser menjadi anggota morfem yang lain. Pergeseran ini bisa ke depan atau ke belakang, seperti contoh berikut:

Pergeseran fonem dalambahasa (Minangkabau)

sudah+i

suda-hi ‘sudahi’

darah+i

dara-hi ‘ darahi’

tambah+i

tamba-hi ‘tambahi’

Sepertinya dalam bahasa Minangkabau pergeseran fonem ini bisa terhadi untuk bentuk dasar yang diakhiri dengan fonem/h// seperti terlihat dalam contoh di atas.

7. Perubahan dan pergeseran

Perubahan dan pergeseran yang dimaksud oleh Soegijo adalah proses perubahan suatu fonem menjadi fonem lain, karena peristiwa berubahnya fonem itu disertai juga dengan pergeseran, proses itu sigolongkan ke dalam perubahan dan pergeseran, misalnya:

Perubahan dan Pergeseran fonem dalambahasa (Minangkabau)

ka+dudua?+ an

kadudua?an ‘kedudukan’

par+gara?+an

pargara?an ‘pergerakan’

di+duduak+i

diduduwa?i ‘diduduki’

3. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat di tarik sebuah kesimpulan terhadap morfofonemik dalam bahasa Minangkabau. Prosesn Morfofonemik yang terjadi mengikuti proses morfofonek dalam bahasa Indonesia yang dibagi menurut Soegijo. Dari proses-proses yang disebutkan oleh Soegijotersebut, hampir semua proses itu juga terjadi dalam bahasa Minangkabau, walaupun ada beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut lebih disebabkan oleh perbedaan bentuk dasar dan kata yang ada dalam bahasa Minangkabau dan bahasa Indonesia yang juga berbeda. Perbedaan yang didapatkan antara lain adalah: 1. dalam bahasa Minangkabau prefik meN- atau peN- berubah bentuk menjadi maN- dan paN-. 2. Prefik ter- berubah menjadi ta- dan prefik ber- berubah menjadi ba-, namu tidak terjadi penghilangan bunyi /r/ baik pada silabe pertama maupun yang homogen atau pada fonem awal /r/. 3. Foenm /r/ pada prefik per- hilang akibat bertemunya dengan beberapa bentuk dasar, namun dalam bahasa Minangkabau prefik per- sepadan dengan prefik pa- bedanya hanya saja prefik pa- dalam bahasa Minangkabau tidak menghilangkan bagian manapun.Namun kalau bertemu dengan bentuk dasar yang diawali oleh fonem /t/ maka fonrm/t/ tersebut akan berubah menjadi fonem /n/.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, C. 1993. Sosiologi Bahasa. Bandung T. Angkasa.

Bloomfield , Leonard .1933. Language. London: George Allen & Unwin Ltd.

Culicover, Peter W.1976 .Syntax .New York : Academic Press

Jufrizal, 1996. Morfofonemik Bahasa Minangkabau Dialek Padang Area. Tesis Untuk Program Magister Linguistik Universitas Udayana.

Katamba , Francis .1993. Morphology.London : Macmillan Press.

Parera, Jos Daniel. 1988. Morfologi. Jakarta : PT. Gramedia

Ramlan , M. 1990. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta : CV.Karyono.

Tidak ada komentar: